Percepatan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Aku baru sadar makna kata itu. beberapa tahun lalu kata itu ditujukan padaku oleh seorang yang luar biasa yang pernah aku kenal selama hidupku, manusia super baik, yang mau nerima bocah baru lulus sekolah jadi karyawannya. Kalo diinget lagi betapa bodohnya diri ini, sudah berada di lingkungan luar biasa, dikelilingi sumber ilmu yang keren banget. Cuman kenapa aku gak sadar ya? kenapa belum bisa memanfaatkan kesempatan yang langka ini. Hari demi hari, minggu ke minggu, hingga tak terasa tahun telah berganti (buset, sok puitis lu ndi…). 😪

“naif” mungkin kata yang tepat buatku, ntah berapa banyak kesalahan yang aku perbuat, udah gabisa diitung, tapi masih aja diberi kesempatan, kadang aku merasa ga’ pantes ada disini. Yaaahh hati orang siapa yang tahu, beliau pasti jenuh dengan kelakuanku (semoga tidak ya Alloh 🙏), yah kalo di inget-inget betapa dungunya aku saat itu. Ntah kata maaf seperti apa yang harus aku katakan untuk menebus kesalahanku.

Berkali-kali juga aku coba dengerin dan lakuin apa yang disarankan beliau, mulai dari banyak baca, banyak mencoba, belajar sampe larut, sampe migran ni pala tetep aja ga mudeng-mudeng. duh maaf ya mas 🙏🙏🙏. Sampe akhirnya sadar dimana letak kesalahanku, yaa setidaknya yang baru aku sadari….
Ternyata pola belajar tiap orang itu beda-beda, daya tangkapnya juga beda-beda. Mungkin belajar sampe larut, tidak tidur berhari-hari cocok untuk beliau, tapi aku coba tetep aja ga’ dong 😫.

Sampe aku menemukan cara belajar yang tepat buat orang kayak aku. Yaah itu semua setelah banyak hal yang aku lalui, gak perlu diceritkan detailnya yg pasti itu bukan tahapan yang mudah. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa, mulai dari boss yang super baik hati, senior di kantor yang tidak diragukan skillset-nya, temen ngaji yang mengingatkan kalo kita hidup bukan hanya di dunia.

Dan nasihat yang kudapat dari ceramah ustadz-ustadz kesayangan antara lain:

dan banyak lagi, serta orang-orang yang gak bisa kusebutkan satu-persatu, memang tidak semua aku belajar langsung bertatap muka kepada mereka, hanya dari rekaman ceramah beliau-beliau, tapi itu aku anggap beliau-beliau adalah guru kehidupanku, dari mereka aku menemukan jalan mana yang harus kutempuh.

Ah aku tidak sepandai mereka dalam berkata-kata, betapa bersyukurnya aku ada di dunia ini. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan, mungkin lain waktu, berlahan, sembari menemukan makna dari hal-hal yang belum aku pahami.

“Jadi intinya postingan ini apa ndi?”
Ah entahlah, maafkan aku. 🙏 😅 yang kupahami semua itu butuh proses.

“bukankah kupu-kupu pernah menjadi hewan yang menjijikan sebelum datang keindahannya”

dan

“tidak semua bunga mekar secara bersamaan”

Nikmati saja prosesnya, dan mulai percapatan itu dari sekarang, meningkatkan skill, pengetahuan, hikmah, dan makna. Hingga berada disuatu titik bisa bermanfaat bagi agama, kemanuasiaan, alam, kehidupan, hingga semesta ❤️. Tidak ada kata terlambat untuk beruhan jadi baik, bukankah proses menjadi baik itu baik 😊


Update 15 Januari 2019
21:35 WIB
Dengan penuh harap
Yogyakarta

comments powered by Disqus