Percepatan

26 September 2018

Aku baru sadar makna kata itu. beberapa tahun lalu kata itu ditujukan padaku oleh seorang yang luar biasa yang pernah aku kenal selama hidupku, manusia super baik, yang mau nerima bocah baru lulus sekolah jadi karyawannya. Kalo diinget lagi betapa bodohnya diri ini, sudah berada di lingkungan luar biasa, dikelilingi sumber ilmu yang keren banget. Cuman kenapa aku gak sadar ya? kenapa belum bisa memanfaatkan kesempatan yang langka ini. Hari demi hari, minggu ke minggu, hingga tak terasa tahun telah berganti (buset, sok puitis lu ndi…). ๐Ÿ˜ช

“naif” mungkin kata yang tepat buatku, ntah berapa banyak kesalahan yang aku perbuat, udah gabisa diitung, tapi masih aja diberi kesempatan, kadang aku merasa ga’ pantes ada disini. Yaaahh hati orang siapa yang tahu, beliau pasti jenuh dengan kelakuanku (semoga tidak ya Alloh), yah kalo di inget-inget betapa dungunya aku saat itu. Ntah kata maaf seperti apa yang harus aku katakan untuk menebus kesalahanku.

Berkali-kali juga aku coba dengerin dan lakuin apa yang disarankan beliau, mulai dari banyak baca, banyak mencoba, belajar sampe larut, sampe migran ni pala, tetep aja ga mudeng-mudeng. duh maaf ya mas ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™. Sampe akhirnya sadar dimana letah kesalahanku, yaa setidaknya yang baru aku sadari…. Ternyata pola belajar tiap orang itu beda-beda, daya tangkapnya juga beda-beda. Mungkin belajar sampe larut, tidak tidur berhari-hari cocok untuk beliau, tapi aku coba tetep aja ga’ dong ๐Ÿ˜ซ.

Sampe aku menemukan cara belajar yang tepat buat orang kayak aku. Yaah itu semua setelah banyak hal yang aku lalui, gak perlu diceritkan detailnya yg pasti itu bukan tahapan yang mudah. Aku sangat bersyukur Alloh pertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa, mulai dari boss yang super baik hati, senior di kantor yang tidak diragukan skillsetnya, temen ngaji yang mengingatkan kalo kita hidup bukan hanya di dunia, nasihat dari cuplikan-cuplikan ceramah Ust. Oemar Mita, Ust. Adi Hidayat, Ust. Hannan Attaki, Ust. Khalid Bassalamah, Ust. Subhan Bawazier, Ust. Nuzul Dzikri, Ust. Felix Shiaw, Ust. Yusuf Mansur(yang saat di jakarta tiap bulan ke istiqlan dengerin ceramahnya), Nasihat Cak Nun, mas Sabrang, dan banyak para ahli ilmu, dan orang-orang yang gak bisa kusebutkan satu-persatu, memang tidak semua aku belajar langsung, hanya dari rekaman ceramahnya saja tapi itu aku anggap kalian guru-guru kehidupanku, dari kalian aku menemukan jalan mana yang harus kutempuh.

Ah aku tidak sepintar itu menggungkapkan dengan kata-kata, betapa bersyukurnya aku ada di dunia ini. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan, mungkin lain waktu, berlahan, sembari menemukan makna dari hal-hal yang belum aku pahami.

“Jadi intinya postingan ini apa ndi?” ah entahlah, maafkan aku. ๐Ÿ™ ๐Ÿ˜… yang kupahami semua itu butuh proses, kalo udah ketemu mulai percapatan itu dari sekarang, meningkatkan skill, pengetahuan, hikmah, dan makna. Hingga berada disuatu titik bisa bermanfaat bagi agama, kemanuasiaan, alam, kehidupan, hingga semesta โค๏ธ. Tidak ada kata terlambat untuk beruhan jadi baik. Bukannya proses menjadi baik itu baik ๐Ÿ˜Š


Update 4 Oktober 2018
23:00 WIB
Dengan penuh harap
D.I Yogyakarta


comments powered by Disqus